SUMENEP – Polemik keberadaan sejumlah tempat hiburan malam di Kabupaten Sumenep terus bergulir dan memantik pertanyaan publik. Mengingat praktek atau kegiatan yang tejadi didalamnya dinilai berpotensi berdampak negatif terhadap moral generasi muda pada khususnya.
Sejumlah kalangan masyarakat mempertanyakan dimana posisi Bupati dan Wakil Bupati Sumenep dalam merespons isu yang ramai diperbincangkan publik. Hingga kini, belum terlihat langkah atau pernyataan resmi yang secara khusus menjawab keresahan masyarakat terkait keberadaan sejumlah tempat hiburan malam yang terus menjadi perbincangan.
Pertanyaan serupa juga diarahkan kepada tokoh agama, organisasi kemasyarakatan Islam, aktivis sosial, mahasiswa, hingga insan pers yang selama ini dikenal vokal terhadap berbagai persoalan publik di Kabupaten Sumenep.
"Dimana Bupati dan Wakil Bupati? Dimana para tokoh agama? Dimana organisasi-organisasi Islam? Dimana para aktivis dan jurnalis yang selama ini peduli terhadap masa depan moral generasi muda Sumenep?" ujar syafik.
Menurut aktivis Alpart tersebut, Persoalan tempat hiburan malam dan kegiatan yang ada didalamnya tidak dapat dipandang sebagai persoalan biasa, Karena dinilai sangat bertolak belakang dengan aturan dan norma yang berlaku di kabupaten Sumenep.
Sumenep dikenal sebagai daerah yang memiliki identitas religius yang kuat, Dibuktikan dengan keberadaan ratusan pesantren dan tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat.
"Karena itu, Menjadi miris ketika tempat hiburan malam justru malah bisa tumbuh dan berkembang di kota yang kental dengan suasana religius ini" Tambahnya .
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah tempat hiburan seperti Harmony, Lotus, Potre, JBL, dan Mr Ball menjadi buah bibir yang cukup menarik diperbincangkan. Terlebih tentang isu miras dan tontonan fullgarnya yang ditengarai semakin menjadi.
Namun hingga saat ini, belum ada penjelasan konkrit dan komprehensif yang dapat menjawab berbagai spekulasi yang berkembang.
"Masyarakat membutuhkan kepastian. Jika memang semua berjalan sesuai aturan, sampaikan secara terbuka. Jika ada pelanggaran, lakukan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku," tambah syafik.
Ia pun mempertanyakan sikap profesionalisme pemerintah daerah dalam mengambil sikap yang tegas dan berani, Hingga tidak terkesan membackingi.
"Jangan sampai Sumenep yang religius ini malah terbalik dikenal sebagai daerah yang ramah terhadap alkohol dan pemandu wanita yang bertubuh sexy serta fullgar, Karena itu akan sangat memalukan sekali" ungkapnya.
Publik kini menunggu, apakah polemik ini akan dijawab dengan langkah nyata dan keterbukaan informasi, atau justru akan terus menjadi pertanyaan yang menggantung di tengah masyarakat Kabupaten Sumenep.
Namun, Hingga berita ini ditulis, Wakil bupati Sumenep enggan memberikan tanggapan saat di konfirmasi.
